
Last Updated: Juli 2026 | Ditulis oleh Tim Konsultan AUG Student Services Indonesia
Pernah nggak sih kamu merasa frustrasi setelah melihat hasil tes IELTS? Padahal, di kantor kamu biasa presentasi pakai bahasa Inggris dengan lancar, meeting sama klien asing, dan nonton Netflix pun udah nggak pakai subtitle. Tapi giliran tes IELTS, skornya malah mentok di Band 6.0 atau 6.5.
Kalau kamu sedang berada di fase kebingungan ini, tarik napas dulu. Jago bahasa Inggris tidak menjamin kamu akan mendapatkan skor IELTS yang tinggi. IELTS bukanlah sekadar tes bahasa Inggris umum, melainkan sebuah ujian keterampilan standar akademik yang punya rubric (kriteria penilaian) yang kaku. Kamu tidak bisa sekadar mengandalkan intuisi atau gaya bahasa ngobrol. Yuk, kita bedah 10 kesalahan fatal yang paling sering dilakukan orang Indonesia dan bagaimana cara menghindarinya!
Berdasarkan analisis dari berbagai institusi, banyak profesional muda yang terjebak pada ilusi kefasihan. Mahir berbicara di kantor tidak menjamin skor tinggi jika kamu tidak menjawab sesuai instruksi ujian. Penguji dari British Council tidak peduli seberapa keren gayamu berbicara. Mereka menilai kertas dan rekaman suaramu menggunakan tabel kriteria yang sangat teknis. Jika kamu tidak memahami apa yang sebenarnya mereka cari di setiap sesi ujian, skor tinggimu hanya akan sekadar menjadi angan-angan.
Karena bahasa ibu kita memiliki struktur yang sangat berbeda dengan bahasa Inggris, ada banyak kebiasaan buruk yang sering terbawa ke ruang ujian. Inilah alasan kenapa IELTS score rendah, beserta solusinya:
Ini adalah masalah paling klasik. Tata bahasa Indonesia sering kali mengintervensi cara kita merangkai kalimat bahasa Inggris. Misalnya, kita sering lupa menambahkan akhiran plural “s/es” (menyebut one books atau many friend). Selain itu, karena bahasa Indonesia menggunakan kata ganti netral “dia”, kandidat sering tertukar antara subjek he dan she saat berbicara cepat. Hal sepele ini akan langsung menghancurkan skormu di kriteria Grammatical Range and Accuracy.
Banyak orang yang mencari jalan pintas dengan menghafal template esai atau jawaban dari internet. Hati-hati, Examiner dilatih secara khusus untuk mendeteksi memorized answers / templates ini! Menggunakan template yang tidak natural justru akan menjadi bumerang. Jawabanmu akan terdengar robotik, sehingga skormu di bagian Lexical Resource dan Coherence and Cohesion akan langsung dipotong habis-habisan.
Banyak kandidat yang memaksakan diri memalsukan aksen British atau American karena mengira itu akan menaikkan nilai. Padahal, penguji sama sekali tidak menilai aksenmu! Skor Speaking diukur murni dari Pronunciation (kejelasan artikulasi suara, penekanan suku kata, dan intonasi yang natural). Bicaralah dengan aksen aslimu asalkan pengucapan setiap katanya jelas dan benar.
Di sesi Speaking Part 1, sering kali kandidat hanya menjawab “Yes, I like it” atau satu kalimat pendek saja. Ini adalah kesalahan yang sangat mematikan potensi nilaimu. Jawaban tertutup akan mencegahmu menunjukkan variasi tata bahasa dan kelancaran berbicara. Gunakan teknik Answer – Explain – Example untuk memperpanjang jawaban secara natural tanpa harus menghafal teks.
Terlalu takut salah grammar sering kali membuat kandidat terdiam lama saat berbicara, atau terlalu banyak menggunakan fillers (seperti “eeeh”, “ummm”). Ingat, fluency sama pentingnya dengan tata bahasa. Alih-alih berhenti di tengah kalimat untuk memikirkan grammar yang sempurna, lebih baik teruslah berbicara dengan alur yang masuk akal dan percaya diri.
Demi terlihat pintar, banyak orang memaksa memakai kata-kata rumit (high-level vocabulary) yang mereka temukan di kamus, namun tidak tahu konteks penggunaannya. Penggunaan kata yang tidak natural justru akan membuat kalimatmu membingungkan. Lebih baik gunakan kosakata umum namun akurat, daripada memaksa kata sulit yang malah merusak makna kalimatmu.
Banyak yang menulis esai panjang lebar tapi lupa menjawab seluruh poin pertanyaan. Di IELTS, ini sangat fatal! Kamu wajib memahami perbedaan Task Achievement (untuk Writing Task 1) dan Task Response (untuk Writing Task 2). Jika kamu menulis opini yang bagus tapi melenceng dari topik soal, skormu pasti akan anjlok.
Di sesi Reading, banyak yang membaca teks terlalu detail sehingga kehabisan waktu di soal terakhir. Di Writing, gagal mengatur waktu akan berujung pada esai yang belum selesai. Latihlah time management-mu secara ketat. Gunakan timer saat latihan: maksimal 20 menit untuk Task 1 dan 40 menit untuk Task 2 agar kamu terbiasa dengan tekanan waktu.
Waktu tinggal 1 menit dan masih ada 5 soal Reading atau Listening yang kosong? Jangan pernah biarkan lembar jawabanmu bersih tanpa coretan! IELTS tidak memiliki sistem penalti atau minus poin untuk jawaban yang salah. Jadi, jika kamu benar-benar kehabisan waktu, tebak saja jawabannya. Siapa tahu tebakanmu tepat dan menyelamatkan skormu!

Kurang panjang menulis esai adalah bencana. Task 1 wajib minimal 150 kata, dan Task 2 minimal 250 kata. Jika kamu menulis kurang dari batas tersebut, kamu akan otomatis terkena word count penalty yang membuat skormu terpotong secara sistematis, sebagus apa pun tata bahasamu.
Melihat fakta di atas, terjawab sudah kenapa IELTS score rendah meskipun bahasa Inggris keseharianmu sudah sangat fasih. Menguasai IELTS bukan hanya soal kemampuan bahasa, melainkan soal taktik, pengenalan format tes, dan evaluasi rutin. Belajar sendiri dari YouTube atau menebak-nebak template tulisan sering kali berujung pada skor yang tidak kunjung naik. Daripada uang pendaftaran ujianmu yang jutaan rupiah itu hangus berkali-kali, lebih baik matangkan persiapanmu dengan bimbingan profesional! Tim ahli di AUG Student Services siap membantu mengevaluasi kelemahanmu!
Kamu berencana kuliah di Malaysia, kuliah di China, kuliah di New Zealand, kuliah di Amerika, kuliah di Kanada, kuliah di Switzerland, atau kuliah di Inggris? Konsultasikan semua rencanamu bareng konsultan AUG Indonesia! Kamu bisa konsultasi online atau langsung datang ke kantor terdekat, tinggal pilih mana yang paling nyaman buat kamu.
Langsung aja klik buat ngobrol sama tim AUG Indonesia sekarang. Yuk, mulai langkah baru buat wujudkan kuliah di luar negeri TANPA RIBET!
Hubungi AUG Student Services sekarang juga untuk info lengkap soal pendaftaran, beasiswa, dan visa pelajar!
Karena IELTS adalah ujian dengan standar akademik. Kelancaran ngobrol santai tidak akan cukup jika kamu mengabaikan rubrik penilaian teknis seperti Task Response, Coherence, dan Grammatical Range yang diwajibkan oleh penguji.
Sayangnya, tidak. Ini salah besar. Penguji murni menilai aspek Pronunciation (kejelasan pelafalan, intonasi, dan penekanan suku kata), bukan menilai aksen negara tertentu.
Para penguji (examiner) sangat ahli mendeteksi jawaban hafalan. Jika kamu menjejalkan template kaku, tulisanmu akan kehilangan konteks aslinya dan malah menghancurkan nilaimu di aspek Lexical Resource dan Coherence.
Itu adalah kondisi di mana tata bahasa Indonesia tanpa sadar merusak tata bahasa Inggrismu. Misalnya, karena di Indonesia kata “dia” itu netral, kita jadi sering salah sebut antara he dan she saat sedang berbicara cepat.
Kabar baiknya, IELTS tidak mengenal sistem poin minus! Jadi, aturan mutlaknya adalah: jangan pernah mengosongkan jawaban. Kalau waktu sudah mau habis, tebak saja jawabannya secara acak.