
Gegap gempita konser The Weeknd Jakarta pada weekend lalu masih menyisakan post-concert depression bagi penonton yang hadir. Diadakan selama dua hari berturut-turut pada 26-27 September 2026 di Jakarta International Stadium (JIS), tur bertajuk After Hours Til Dawn ini sukses membuktikan status Abel Tesfaye sebagai salah satu performer terhebat di abad ke-21.
Bayangkan saja, ini adalah kembalinya sang Starboy ke Tanah Air setelah penantian panjang selama sekitar 8 tahun! Terakhir kali ia menyapa penggemar Indonesia adalah pada 9 Desember 2018 di ajang DWP X, Garuda Wisnu Kencana, Bali. Konser ini tidak hanya memuaskan para XO crews, tetapi juga berhasil menarik puluhan ribu casual listener yang rela war tiket demi menyaksikan pertunjukannya.
Mari kita bedah secara mendalam apa yang membuat konser The Weeknd begitu fenomenal, mulai dari eksplorasi genrenya, desain panggung yang di luar nalar, hingga bagaimana kamu bisa menembus industri live music global lewat kuliah di Australia, tepatnya di JMC Academy!
Dampak Masif & Momen Emosional di JIS
Konser The Weeknd kali ini benar-benar memberikan segalanya. Selama dua malam di JIS, Abel membawakan sekitar 40 lagu hit yang membuat para penonton terpana, mengambil dari berbagai era diskografinya mulai dari Kiss Land, Beauty Behind the Madness, Starboy, After Hours, Dawn FM, hingga Hurry Up Tomorrow. Pertunjukan hari pertama dibuka dengan sangat teatrikal lewat lagu “Baptized in Fear”, di mana ia tampil mengenakan topeng iconic-nya, dan ditutup dengan lagu viral “Moth to a Flame”.
Ada satu momen yang sangat emosional bagi para penggemar. The Weeknd tampak sangat terharu menyaksikan energi dan antusiasme penonton Jakarta yang luar biasa keras ikut bernyanyi. Ia secara terbuka berjanji di atas panggung bahwa ia akan kembali ke Indonesia, sambil mengaku tak menyangka butuh waktu selama itu untuk kembali menemui penggemarnya di sini.
Kehadirannya juga membawa angin segar bagi perekonomian lokal. Berdasarkan laporan Pemprov DKI Jakarta, konser The Weeknd yang bertepatan dengan periode festival Pestapora sukses menyumbang perputaran ekonomi hingga hampir Rp 250 miliar bagi Jakarta! Hal ini semakin mengukuhkan posisi Jakarta sebagai kota global yang setara untuk menyambut artis internasional kelas A.
Singkatnya: konser The Weeknd di Jakarta bukan cuma soal musik, tapi juga momen emosional bagi penggemar dan dorongan nyata bagi ekonomi kreatif ibu kota.
Mengapa Casual Listener Rela Hadir? Rahasia Ambiguitas Genre
Satu fenomena menarik dari konser The Weeknd di Jakarta adalah audiensnya yang sangat luas. Mengapa orang yang bukan fans fanatik The Weeknd tetap merasa wajib datang ke konser ini? Jawabannya ada pada Abel dan eksplorasinya dalam genre musik. Karier The Weeknd berevolusi secara drastis, dan ia berhasil menjaring berbagai tipe pendengar di setiap fasenya:
- Era Awal (2011): Muncul lewat mixtape anonim dan album House of Balloons, ia mendefinisikan genre “alt-R&B”. Musiknya bernuansa sangat gelap, eksperimental, dan atmosferik.
- Era Ekspansi Lintas Genre: Lewat album Beauty Behind the Madness hingga Starboy, ia berkolaborasi dengan Daft Punk yang membawa pengaruh elektronik dan dance yang kuat.
- Era Pop-HipHop: Kolaborasinya bersama Kendrick Lamar, Lana Del Rey, hingga Ariana Grande membuktikan ia mampu meramu elemen pop dan hip-hop dengan sangat seamless.
Dalam konteks industri, eksekutif musik veteran Daniel Glass bahkan pernah menyatakan “The Weeknd is very interesting because he ticks all the boxes: pop, R&B, hip-hop, even dance.” Ambiguitas genre inilah yang membuat album After Hours sempat memicu perdebatan panjang di komite Grammy Awards mengenai kategorisasinya. The Weeknd memiliki mass appeal yang setara dengan legends seperti Michael Jackson atau Prince. Musiknya ramah di telinga pencinta pop, dihormati oleh komunitas hip-hop, dan menjadi anthem di dance floor.
Singkatnya: The Weeknd berhasil menembus batas genre sehingga musiknya dinikmati lintas komunitas, dari penggemar pop, R&B, hip-hop, sampai dance.
Stage Production yang Epic: Membangun Kota Kolaps di Atas Panggung
Jika ada satu alasan utama yang membuat konser ini bernilai tinggi, itu adalah stage production atau kemegahan panggungnya. Menonton The Weeknd bukan sekadar menonton orang bernyanyi, melainkan menyaksikan instalasi seni teater modern berskala raksasa.
Tur After Hours Til Dawn dirancang oleh scenographer kelas dunia, Alexander Wessely, bersama creative director sekaligus co-founder label XO, La Mar Taylor. Berikut adalah rahasia megahnya panggung The Weeknd:
- Konsep 4 Babak (Architecture of Collapse): Panggung dirancang seperti sebuah kota post-apocalyptic yang perlahan runtuh di depan mata penonton, dari babak “worship” yang terasa sangat monumental bagaikan ritual pemujaan, hingga babak akhir di mana kemegahan panggung runtuh dan hanya menyisakan Abel seorang diri.
- Penyatuan Fisik & Digital: Wessely menciptakan perpaduan set bangunan secara fisik dan LED wall raksasa. Layar berfungsi memanipulasi skala, sementara elemen pencahayaan (lighting/lasers) memberikan ilusi volume dan bobot. Sensasi imersifnya disebut-sebut mengejar standar Sphere di Las Vegas, tempat Wessely juga pernah berkarya.
- Patung Hajime Sorayama: Identitas visual paling iconic dari tur ini adalah patung robot chrome raksasa berlapis krom di tengah panggung. Karya seniman legendaris Jepang, Hajime Sorayama, ini merepresentasikan “machine idol”, sebuah kritik visual tentang peradaban yang memuja mesin layaknya Tuhan.
Singkatnya: panggung After Hours Til Dawn adalah instalasi seni empat babak yang memadukan set fisik, LED raksasa, dan patung ikonik Hajime Sorayama untuk menciptakan pengalaman imersif setara standar dunia.
Tertarik Kerja di Balik Layar? Raih Karier Global via JMC Academy!

Terpukau dengan tata suara yang menggelegar dan visual panggung The Weeknd? Semua itu dieksekusi oleh ratusan profesional di bidang audio engineering, produser musik, dan manajer live event. Jika kamu ingin berkarier di industri musik tingkat global dan memproduksi tur berskala stadion, JMC Academy di Australia adalah tempat yang tepat untuk memulainya.
Satu fakta yang harus kamu tahu, Lewis Mitchell, salah satu dosen Audio Engineering di JMC Academy, memiliki rekam jejak bekerja secara langsung dengan artis dunia, termasuk Travis Scott, A$AP Rocky, dan Rita Ora! Belajar di JMC berarti kamu akan dididik langsung oleh praktisi industri kelas A.
Yang paling sering kami temui di sesi konsultasi, banyak calon mahasiswa musik ragu masuk jurusan audio engineering atau creative technology karena mengira jurusan ini “kurang jelas” prospek kerjanya. Padahal, industri live event dan touring justru salah satu sektor kreatif yang paling cepat tumbuh, apalagi setelah melihat sendiri skala produksi seperti konser The Weeknd di JIS.
3 Pilihan Jurusan S1 (Bachelor) di JMC Academy
JMC Academy menawarkan program accelerated di mana kamu bisa meraih gelar Bachelor (S1) hanya dalam waktu 2 tahun (6 trimester) di kampus Brisbane, Melbourne, atau Sydney.
Berikut adalah 3 program unggulannya:
1. Bachelor of Music (Major: Music Production)
- Fokus: Komposisi, desain suara, serta mixing/mastering musik orisinal. Kamu akan menguasai Digital Audio Workstation (DAW) standar industri seperti Ableton Live, Logic, dan Pro Tools.
- Karier: Music Producer, Electronic Music Artist, Film/TV Composer.
2. Bachelor of Creative Technology (Audio Engineering & Sound Production)
- Fokus: Sangat cocok untuk kamu yang menyukai stage production. Kamu akan belajar modul Live Event Production dan Advanced Live Sound (mendesain sistem PA untuk venue sebesar JIS), hingga teknologi lighting dan proyeksi visual.
- Fasilitas: Mahasiswa memiliki akses ke konsol raksasa SSL Duality 48 Channel dan teknologi tata suara industri terkini.
- Karier: Live Sound Technician, Broadcast Engineer, Studio Engineer.
3. Bachelor of Entertainment Business Management
- Fokus: Cocok bagi kamu yang ingin mengurus bisnis logistik tur artis. Program ini membedah Festival Management (meliputi produksi, tiket, hingga keamanan) dan perencanaan tur internasional.
- Karier: Tour Manager, Venue Manager, Festival Manager.
Keunggulan utama JMC Academy adalah tidak diperlukannya nilai ATAR untuk mendaftar! Mahasiswa internasional (termasuk dari Indonesia) cukup melalui proses interview, menyerahkan portofolio, dan memenuhi syarat kemampuan bahasa Inggris berupa IELTS Academic 6.5 (no band less than 6.0). Semua program ini mewajibkan mahasiswa untuk menjalani internship sebelum lulus!
Singkatnya: JMC Academy menawarkan jalur cepat (2 tahun) untuk kuliah S1 di industri musik dan live event, tanpa syarat ATAR, cukup lewat portofolio dan interview.
Wujudkan Mimpimu ke Industri Hiburan Global Bersama AUG!
Konser The Weeknd di Jakarta adalah bukti nyata bahwa industri live entertainment terus berkembang pesat tanpa batas. Dengan industri live music Australia yang terus tumbuh setiap tahunnya, peluang kerjamu setelah lulus dari JMC Academy sangatlah terbuka lebar. Konsultasikan rencana studi musikmu bersama AUG Student Services!
Kamu berencana kuliah di Malaysia, kuliah di China, kuliah di New Zealand, kuliah di Amerika, kuliah di Kanada, kuliah di Switzerland, atau kuliah di Inggris? Konsultasikan semua rencanamu bareng konsultan AUG Indonesia! Kamu bisa konsultasi online atau langsung datang ke kantor terdekat, tinggal pilih mana yang paling nyaman buat kamu.
Langsung aja klik buat ngobrol sama tim AUG Indonesia sekarang. Yuk, mulai langkah baru buat wujudkan kuliah di luar negeri TANPA RIBET!
Tertarik Konsultasi?
Hubungi AUG Student Services sekarang juga untuk info lengkap soal pendaftaran, beasiswa, dan visa pelajar!
WhatsApp: +62 817-6864-284
WhatsApp: +62 8777-6-777-284
WhatsApp: +62 817-6865-284
WhatsApp: +62 817-6867-284
WhatsApp: +62 822-8806-0935



