
Last Updated: Mei 2026 | Ditulis oleh Tim Konsultan AUG Student Services Indonesia
Kisah modern fairytale ternyata tidak selalu berakhir dengan sang putri tinggal di istana yang megah. Terkadang, kisah terbaik justru terjadi ketika sang putri memilih untuk berkemas, merantau sebagai international student, dan hidup mandiri sebagai rakyat biasa. Inilah kisah Mako Komuro (sebelumnya dikenal sebagai Princess Mako), keponakan Kaisar Naruhito dari Japanese Imperial Family (Keluarga Kekaisaran Jepang). Keputusannya melepaskan gelar kebangsawanan demi menikahi rakyat biasa sempat menggemparkan dunia.
Namun, di balik drama kerajaan tersebut, ada satu lore yang jarang disorot: bagaimana keputusan Putri Jepang 印度尼西亚语 menjadi senjatanya untuk meraih kemandirian finansial dan kebebasan di dunia nyata. Mari kita bedah kisah inspiratifnya!
Kisah cinta Mako dan suaminya, Kei Komuro, memang penuh liku. Demi cintanya, Mako rela melepaskan status kerajaannya, menolak uang saku pernikahan dari negara senilai jutaan dolar, dan memilih pindah dari Tokyo untuk memulai hidup baru yang jauh dari sorotan media di New York City, Amerika Serikat. Kabar terbarunya di tahun 2026, pasangan ini dilaporkan telah memiliki anak dan menjalani kehidupan berkeluarga yang privat nan damai. Pertanyaannya, bagaimana seorang mantan putri kaisar bisa survive di kerasnya kota New York tanpa dukungan finansial negara?
Jawabannya ada pada investasi pendidikan. Jauh sebelum berita pernikahannya disorot dunia, Mako secara diam-diam telah membekali dirinya dengan UK Master’s Degree. Keputusan beraninya untuk mundur dari institusi kerajaan tidak akan mungkin terjadi jika ia tidak memiliki bekal pendidikan berstandar global yang mumpuni. Gelar Master inilah yang menjadi fondasi kemandiriannya!
Banyak future students dari Asia yang merasa cemas atau takut mengalami culture shock saat merantau ke Eropa. Kekhawatiran soal keamanan, privasi, dan inklusivitas lingkungan kampus sering kali membayangi langkah mereka. Kisah Mako bisa menjadi validasi bahwa kampus di UK adalah tempat yang sangat aman. Mako secara diam-diam terbang ke UK untuk menempuh gelar S2 (Master’s) di University of Leicester.
Hebatnya, selama satu tahun penuh ia berada di sana, identitasnya berhasil dirahasiakan oleh pihak kampus! Ia tinggal di dorm biasa, berjalan kaki ke perpustakaan, makan di kantin, dan berbaur secara normal. Profesor Simon Knell dari universitas tersebut bahkan bersaksi bahwa Mako menjalani hidup “like any other student”. Hal ini membuktikan bahwa kampus-kampus di Inggris sangat menjunjung tinggi kesetaraan dan privasi students-nya, memastikan setiap international students merasa aman untuk berekspresi tanpa takut dihakimi.
Di antara ratusan universitas top di Inggris, mengapa seorang putri kerajaan memilih University of Leicester? Jawabannya ada pada reputasi akademiknya yang sangat baik. Mako mengambil program studi Art Museum and Gallery Studies. Meskipun terdengar sangat niche, program studi Museum Studies MA/MSc di Leicester adalah salah satu yang terbaik dan paling dihormati secara global di kalangan profesional sejarah dan seni.
Students yang mendaftar di program ini memiliki fleksibilitas untuk memilih jalur gelar akhir, baik itu MA (Master of Arts), MSc (Master of Science), ataupun PGDip (Postgraduate Diploma). Kurikulumnya dirancang bukan cuma untuk sekadar menghafal sejarah lukisan, melainkan bagaimana mengelola, melestarikan, dan mempresentasikan warisan budaya kepada publik modern.
Kelebihan utama dari program S2 di Inggris adalah orientasi kurikulumnya yang sangat lekat dengan dunia industri. Di University of Leicester, students tidak hanya dikurung di kelas teori. Program Museum Studies ini mewajibkan seluruh students untuk mengikuti 8-week full-time work placement di museum atau galeri bergengsi. Praktik lapangan ini memastikan lulusannya memiliki skill yang benar-benar dibutuhkan oleh industri global. Putri Mako sendiri dilaporkan telah menyelesaikan masa penempatan praktiknya secara membumi di Coventry Museum dan New Walk Museum yang berada di wilayah Leicester. Ini adalah pengalaman hands-on yang sangat berharga untuk karirnya!
Bagi Gen Z yang ingin kuliah di bidang seni, humaniora, atau sejarah, pasti sering mendapat cibiran dari orang tua soal ketiadaan prospek karir. Mari gunakan kisah Mako sebagai role model untuk mematahkan stigma tersebut. Ilmu Art Museum and Gallery Studies bukanlah jurusan yang minim masa depan. Berkat gelar dari Leicester inilah, Mako diakui secara profesional oleh institusi global.
Faktanya, setelah pindah ke New York City, Mako dilaporkan bekerja dan menjadi sukarelawan untuk mengatur pameran lukisan di museum top dunia, The Metropolitan Museum of Art (The Met). Gelar dari UK memberikannya kredibilitas untuk bersanding dengan para ahli seni di kancah internasional. Bagi kamu yang berminat mengambil program studi sejenis saat study abroad in the UK, berikut adalah beberapa prospek karir bergengsi dengan Return of Investment (ROI) yang sangat menjanjikan:
Kisah inspiratif Mako Komuro membuktikan bahwa pendidikan adalah kunci menuju kebebasan dan kemandirian. Tidak peduli siapa kamu atau dari mana latar belakang keluargamu, gelar internasional yang tepat akan membuka pintu karir di benua mana pun yang kamu inginkan. Apakah kamu merasa terinspirasi untuk meniti karir unik di Inggris namun bingung harus mulai dari mana? Menentukan program S1 atau S2 yang spesifik seperti Museum Studies, mencari akomodasi yang aman, hingga mengurus birokrasi Student Visa Inggris memang membutuhkan perencanaan matang. Jangan biarkan impianmu berhenti hanya sebagai angan-angan! AUG Student Services hadir sebagai agen pendidikan resmi yang siap memandu perjalanan studimu.
Kamu berencana 马来西亚, 中国, kuliah di New Zealand, 美国, kuliah di Kanada, kuliah di Switzerland或 印度尼西亚语?秃顶的退休人员咨询服务 AUG 印度尼西亚!您可以在网上咨询,也可以直接联系我们,我们会为您提供最优质的服务。
您可以在接下来的时间里在 AUG 印度尼西亚网站上点击查看。Yuk, mulai langkah baru buat wujudkan 州乡村 坦帕-里贝特
联系 AUG学生服务 如需了解更多信息,请点击这里!
Mako (sekarang Mako Komuro) adalah ex princess dari Jepang yang berani mendobrak tradisi kerajaannya demi cinta. Kisahnya jadi panutan Gen Z karena ia membuktikan bahwa perempuan bisa hidup independent di New York tanpa mengandalkan gelar bangsawan, berbekal pendidikan S2 yang kuat!
Ia kuliah di Inggris, tepatnya di University of Leicester. Serunya lagi, ia hidup layaknya anak rantau biasa di asrama kampus tanpa ada yang menyadari identitas aslinya selama setahun penuh. Bukti nyata kalau kampus UK itu sangat inklusif dan menjaga privasi!
Mako mengambil jurusan Art Museum and Gallery Studies. Meski kedengarannya niche banget, program dari Leicester ini diakui sebagai salah satu sekolah studi museum paling top dan prestisius di kancah global.
Kampus ini nggak cuma ngajarin teori dari buku tebal. Mereka punya program wajib 8-week full-time work placement! Di sini mahasiswa diterjunkan langsung buat magang full-time di museum asli. Mako sendiri sempat magang di New Walk Museum di kota Leicester.
Siapa bilang anak seni susah cari kerja? Lulusan dari kampus top ini dicetak buat ngisi posisi elit berkelas dunia, seperti menjadi kurator seni, ahli konservasi benda bersejarah, sampai heritage manager yang gajinya nggak main-main! Mako sendiri terbukti bisa berkarir di The Met New York.