
Buat banyak pelajar Indonesia, niat kuliah ke luar negeri sering berhenti di satu titik yang sama yaitu IELTS. Bukan karena nggak bisa bahasa Inggris, tapi karena tes ini terasa rumit, mahal, dan penuh tekanan. Banyak yang menunda, overthinking, atau bahkan mundur pelan-pelan sebelum benar-benar mencoba. Padahal, jika kita bicara jujur dan realistis, IELTS 6.5 bukan skor yang mustahil. Ini bukan skor “elite”, tapi juga bukan skor asal lewat. IELTS 6.5 adalah target aman yang paling sering diminta universitas luar negeri, dan dengan strategi yang tepat, skor ini sangat mungkin dicapai oleh pelajar Indonesia.
IELTS 6.5 sering dianggap sebagai titik tengah yang ideal. Untuk jenjang S1, S2 non-research, pathway, hingga foundation program, skor ini sudah memenuhi sebagian besar persyaratan akademik. Artinya, universitas percaya bahwa pemegang skor 6.5 mampu mengikuti perkuliahan, membaca jurnal, menulis tugas, dan berpartisipasi dalam diskusi kelas tanpa tertinggal jauh. Inilah alasan kenapa IELTS 6.5 disebut “realistis”. Skor ini tidak menuntut kemampuan bahasa Inggris setara native speaker, tapi cukup untuk bertahan dan berkembang di lingkungan akademik internasional.
Bagi orang tua, IELTS 6.5 juga memberikan rasa aman. Targetnya jelas, timeline-nya bisa dihitung, dan prosesnya bisa dipantau. Ini bukan soal keberuntungan, tapi soal persiapan yang terstruktur.
Masalah terbesar peserta IELTS bukan pada kemampuan bahasa Inggris dasar, melainkan cara belajar yang keliru. Banyak yang terjebak menghafal kosakata tanpa konteks, mengerjakan soal tanpa memahami format tes, atau belajar terlalu intens di awal lalu kelelahan di tengah jalan. IELTS bukan tes hafalan, melainkan tes keterampilan. Setiap bagian—listening, reading, writing, dan speaking—punya pola, kriteria penilaian, dan jebakan yang berbeda. Tanpa memahami “cara mainnya”, usaha sebesar apa pun sering terasa tidak berbuah.
IELTS dirancang untuk mengukur kemampuan berbahasa dalam konteks akademik dan profesional. Reading menuntut kemampuan scanning dan memahami ide utama, bukan menerjemahkan kata per kata. Listening menguji fokus dan prediksi, bukan sekadar menangkap semua kata. Writing menilai struktur argumen dan kejelasan ide, bukan panjang tulisan. Speaking mengukur kejelasan komunikasi, bukan aksen. Begitu perspektif ini dipahami, IELTS berhenti terasa menakutkan dan mulai terasa bisa ditaklukkan.
Pendekatan paling masuk akal adalah belajar bertahap, konsisten, dan berbasis skill. Tidak perlu belajar delapan jam sehari. Yang dibutuhkan adalah rutinitas yang stabil, latihan terarah, dan evaluasi berkala. Official resources seperti British Council sangat penting karena format dan standarnya sesuai dengan tes asli. Di sisi lain, feedback juga memegang peran besar, terutama untuk writing dan speaking, dua skill yang paling sering menahan skor peserta di angka 6.0.
Untuk membantu memahami alurnya secara praktis, berikut gambaran step-by-step belajar IELTS menuju skor 6.5:
| Tahap Persiapan | Fokus Utama | Aktivitas yang Dilakukan | Target yang Dicapai |
|---|---|---|---|
| Awal (Diagnostic) | Mengetahui level awal | Try out IELTS, analisis skor per skill | Menentukan strategi belajar |
| Fundamental Skill | Memahami format tes | Latihan soal per section, belajar struktur | Familiar dengan pola soal |
| Skill Building | Peningkatan kemampuan inti | Latihan intensif reading, listening, writing, speaking | Skor stabil di 6.0–6.5 |
| Practice Test | Simulasi kondisi asli | Full test dengan timer dan evaluasi | Konsistensi skor |
| Final Review | Penyempurnaan | Review kesalahan, fokus di skill terlemah | Siap tes resmi |
Durasi belajar sangat bergantung pada kondisi awal. Untuk pemula, waktu tiga hingga enam bulan adalah rentang yang wajar. Untuk level intermediate, dua hingga tiga bulan sering kali cukup jika belajar dilakukan dengan fokus. Faktor seperti konsistensi, kualitas latihan, dan adanya feedback sangat memengaruhi hasil akhir. Yang perlu dihindari adalah belajar terburu-buru karena deadline kampus sudah di depan mata. IELTS seharusnya direncanakan sejak awal, bukan dikejar di menit terakhir.
Idealnya, persiapan IELTS dimulai enam hingga sembilan bulan sebelum intake kuliah. Ini memberi ruang untuk belajar dengan tenang, mengulang tes jika perlu, dan menyesuaikan rencana studi tanpa panik. Banyak kasus gagal berangkat kuliah bukan karena akademik, melainkan karena IELTS yang terlambat disiapkan.
Belajar mandiri memang memungkinkan, terutama bagi yang disiplin dan terbiasa belajar sendiri. Namun, tanpa arah dan feedback, proses ini sering memakan waktu lebih lama. Pendampingan membantu mempercepat proses, menghindari kesalahan berulang, dan menjaga motivasi tetap stabil. Pada akhirnya, pilihan ini kembali ke kebutuhan dan kondisi masing-masing.
IELTS 6.5 bukan soal bakat atau “pintar bahasa Inggris sejak kecil”. Ini soal strategi, konsistensi, dan pemahaman sistem tes. Dengan pendekatan yang tepat, target ini sangat achievable bagi pelajar Indonesia. Jika kamu ingin mengejar IELTS 6.5 sekaligus merencanakan kuliah ke luar negeri dengan lebih terarah, AUG siap membantu. Mulai dari konsultasi studi, perencanaan timeline, hingga pendampingan persiapan IELTS, kamu tidak perlu menjalani proses ini sendirian. Untuk diskusi lebih lanjut, kamu bisa langsung menghubungi tim AUG.
1. Apakah IELTS 6.5 cukup untuk kuliah S2 di luar negeri?
Untuk banyak program S2 Taught (non-research), IELTS 6.5 sudah memenuhi syarat minimum, meskipun beberapa jurusan tertentu seperti Hukum, Pendidikan, atau Medis bisa meminta skor yang lebih tinggi.
2. Berapa lama belajar IELTS dari nol sampai 6.5?
Rata-rata membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan dengan belajar konsisten, menggunakan material resmi, dan strategi yang tepat sesuai kelemahan masing-masing skill.
3. Apakah IELTS 6.5 sulit untuk pelajar Indonesia?
Tidak, selama memahami format tes dan fokus pada peningkatan skill Listening, Reading, Writing, dan Speaking, bukan sekadar hafalan. Banyak pelajar Indonesia berhasil mencapai 6.5 bahkan lebih.
4. Lebih baik IELTS Academic atau General?
Untuk keperluan kuliah, IELTS Academic adalah pilihan yang wajib digunakan. IELTS General digunakan untuk keperluan imigrasi atau kerja profesional tertentu.
Catatan: Banyak universitas juga mensyaratkan skor minimum per band, misalnya tidak ada band di bawah 6.0, jadi pastikan cek detail persyaratan kampus tujuanmu.
Butuh tahu apakah IELTS 6.5 cukup untuk kampus dan jurusanmu? Konselor kami bisa bantu cek persyaratan lengkap tanpa biaya.
Kamu berencana kuliah di Malaysia, kuliah di China, kuliah di New Zealand, kuliah di Amerika, kuliah di Kanada, kuliah di Switzerland, atau kuliah di Inggris? Tư vấn liên quan đến khả năng tiếp cận thông tin liên lạc AUG Indonesia! Bạn có thể tham khảo ý kiến trực tuyến về cách cung cấp thông tin quan trọng về các vấn đề liên quan, rất nhiều mana yang paling nyaman buat kamu.
Langsung aja klik buat ngobrol sama tim AUG Indonesia sekarang. Yuk, mulai langkah baru buat wujudkan kuliah di luar negeri TANPA RIBET!
Liên hệ Dịch vụ Sinh viên AUG bạn có thể tìm thấy thông tin về một số thông tin có thể có, xin vui lòng, và xin visa!